Etika Kebuddhaan adalah suatu etika atau peraturan suci untuk mencapai Kebuddhaan. Jika tidak memahami etika Kebuddhaan, bagaimana mungkin seseorang mencapai kesucian Buddha-Bodhisatva? Bila Hati Nurani yang mahasempurna telah menjadi pengendali dalam diri, maka dengan sendirinya dua etika Kebuddhaan ‘Wajah penuh kasih – tanpa suara dalam segala hal’ akan bisa diamalkan dengan nyata.
Di dalam hati setiap manusia terdapat banyak suara. Apa yang diucapkan melalui mulut merupakan suara yang terdengar. Namun saat tidak berbicara, suara yang ada di dalam hati jauh lebih banyak. Suara-suara yang keluar dari mulut dapat menyakiti orang lain, namun suara yang bersemayam di dalam hati kecil terlebih dapat menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Jika saat seseorang menyakiti hati kita, atau bersalah terhadap kita, lantas di dalam hati kita timbul rasa benci, dendam, tidak puas, maka kita bukanlah anak LAOMU yang berbakti, juga bukan bagian dari spirit Buddha Maitreya. Jika saat mendapat pujian dari orang lain, lantas kita menjadi sombong dan takabur, ini berarti kita telah menyakiti hati LAOMU, dan perilaku kita tidak sejalan dengan spirit Buddha Maitreya.
‘Tanpa suara dalam segala hal’ artinya tidak ada suara kebencian, ketidakpuasan, kesombongan, dan sikap takabur. Hina-mulia, gagal-sukses, dipuji-difitnah, berkah-musibah, semua dihadapi dengan ‘Wajah penuh kasih, tanpa suara dalam segala hal’. Jika dalam segala kondisi suara eksternal dan internal tidak timbul, berarti kita telah mengaktualisasikan semangat ‘Menghormati segalanya’. Inilah realisasi Hati Nurani - Aku Sejati, pribadi agung LAOMU yang MahaIlahi, pribadi agung Buddha Maitreya yang mahalugu dan polos. Demikianlah pengamalan sejati semangat ‘Menghormati segalanya’.
Hati Nurani adalah yang paling universal. Hati Nurani yang Paling Universal adalah emanasi Roh LAOMU. Umat manusia di dunia terdiri dari ratusan negara dalam perbedaan kewarganegaraan, sukubangsa, warna kulit, agama dan kepercayaan. Namun pada dasarnya setiap umat manusia - baik pria maupun wanita, tua-muda, pintar-bodoh, jelek-rupawan, miskin-kaya, hina-mulia - semua memiliki Hati Nurani yang sama. Secara lahiriah ada orang yang berkulit putih, kuning-langsat, maupun hitam. Tetapi pada dasarnya Hati Nurani (emanasi Roh LAOMU) dari 6 milyar penduduk dunia adalah sama. Bahkan hewan yang hidup di angkasa, di daratan, maupun di perairan, semua memiliki Hati Nurani (emanasi Roh LAOMU) yang sama. Jika kita menginsafi hal ini, Hati Nurani yang Paling Universal ini menjadi pengendali, sehingga dengan sendirinya kita merealisasikan semangat 'Menghormati segalanya, segalanya dihormati'.
Kini, karena antarsesama manusia di dunia tidak saling menghormati, muncullah sikap diskriminasi ras dan suku bangsa. Di mana-mana terlihat fenomena orang kaya menghina orang miskin; orang berstatus tinggi meremehkan rakyat jelata; orang pintar meremehkan orang bodoh; orang rupawan merendahkan orang yang buruk-rupa; pihak yang kuat menindas pihak yang lemah; orang yang berkuasa mendiskreditkan orang yang tak berkuasa; orang yang menang meremehkan orang yang kalah. Hanya mereka yang pintar, kaya, ataupun berstatus tinggi yang mendapat penghormatan. Hal seperti inilah yang menjadi pemicu timbulnya berbagai gejolak dan kekacauan.
Sadarilah, kalau orang menghormati kita karena kita kaya atau berkedudukan tinggi, ini sesungguhnya merupakan hal yang amat menyedihkan, karena yang orang hargai sesungguhnya bukan diri kita, melainkan jabatan dan kekayaan kita! Tetapi demikianlah kenyataannya. Pola penilaian masyarakat umumnya mengultuskan konglomerat, tokoh tenar, atau yang berkuasa. Sebaliknya, sangat nyata berlaku di mana-mana bahwa tanpa kekuasaan, pengetahuan tinggi atau gelar akademis, maka orang-orang tidak akan memandang dan menghargai keberadaan kita. Dari fenomena ini, jelas sekali bahwa sesungguhnya yang dihormati orang bukanlah Jati Diri seseorang, melainkan status sosial, kekayaan, tingkat pengetahuan, atau gelar akademis! Karena itu insafilah Kebenaran sejati bahwa penghormatan sejati tidak bergantung pada unsur eksternal yang kondisional.
Dalam komunitas Ketuhanan, jika kita beranggapan bahwa dengan menjadi seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Madya, umat senior, Dharmaduta unggulan, motivator yang handal, perintis terkenal, atau dermawan terbesar, lantas kita akan mendapatkan penghormatan dan penghargaan yang tinggi dari semua orang, berarti pembinaan kita mengalami kegagalan. Semua faktor tadi adalah sebab-jodoh luar diri yang dipinjam untuk membuat khayalak ramai hormat terhadap kita. Andaikan segala unsur tersebut dihilangkan: Saya bukan Sesepuh, bukan Pandita, bukan Pandita Madya, bukan umat senior, tak terampil bicara, tak pandai menguraikan Dharma, tak bisa berceramah, tiada beramal dana, tak pandai memotivasi, tak mampu merintis Ketuhanan; apakah orang-orang tetap respek dan menghargai diri kita?
Singkat kata, segala sebab-jodoh luar diri (faktor eksternal) adalah semu dan fana. Semua unsur tersebut mudah berubah dan setiap saat bisa sirna. Begitu sebab-jodoh itu lenyap, orang lain tidak akan menghargaimu lagi. Saat itu bagaimanapun beratnya penderitaan kita, bagaimanapun kita mengeluh dan menuntut, bagaimanapun besarnya kekecewaan dan keputusasa kita, semua itu tak mampu memperbaiki kenyataan.
Jika semua titel, gelar kehormatan, pangkat, kedudukan, sebab-jodoh pendukung, segala faktor eksternal dilenyapkan dari diri kita, namun orang lain masih menghormati dan menghargai kita, maka itu adalah sikap respek yang sesungguhnya terhadap diri kita! Dalam hal ini yang diandalkan adalah keindahan kepribadian - kebajikan Nurani, yaitu aktualisasi nyata Hati Nurani (emanasi Roh LAOMU) yang kita miliki secara asali! Dengan kata lain, pancarkanlah kebajikan internal yang tiada tara dari diri anda!
Oleh sebab itu, penghargaan sejati terhadap diri kita bukan didasari atas status materi dan jasmaniah, melainkan atas realitas Hati Nurani (emanasi Roh LAOMU) yang berpancar secara nyata! Dalam kesadaran Nurani, jasmani pun menjadi nirmana-kaya (raga emanasi) dari LAOMU dan Buddha Maitreya. Orang salut atas kebajikan indah yang berpancar terang, atas kesadaran Nurani kita! Sekali lagi, ketika kita tidak memiliki sesuatu apapun, tetapi masih dihormati dan dihargai orang, maka sikap respek ini barulah penghormatan sejati yang sesungguhnya. Sebaliknya, kalau karena anda menjabat sebagai presiden, pejabat tinggi, direktur, ketua umum, lantas orang-orang pun menghormati anda, maka, itu bukan penghormatan yang sejati!
Dunia zaman sekarang bagaikan suatu jebakan raksasa yang serba menyesatkan. Pola pandang dan pola pikir segenap masyarakat sangatlah ekstrim, keliru, dan kacau. Setiap orang ingin dianggap penting dan dihormati, juga beranggapan bahwa semua itu pasti bisa didapatkan kalau kita memiliki banyak kekayaan, harta-benda, ketenaran, jabatan tinggi, status istimewa, dan lainnya. Fenomena tak sehat ini didasari oleh sikap egosentris – selalu mengutamakan keuntungan pribadi, karena Hati Nurani yang Paling Universal tertutup oleh kabut dosa dan sifat buruk yang terakumulasi sejak kehidupan-kehidupan lampau.
Kita selalu tertipu oleh penampilan luar, terjebak dalam konsep ekstrim dualis dan diskriminasi yang kita ciptakan sendiri. Yang kita anggap hebat, kita hormati. Yang kita anggap payah, kita remehkan. Pemenang dijadikan raja, sementara pecundang menjadi budak. Begitulah pola pikir kebanyakan orang. Contohnya, penerima medali emas dalam ajang olah raga internasional (olympiade) pamornya begitu menyilaukan, sebaliknya atlit yang tidak memperoleh medali menunduk lesu, tak digubris siapapun, tiada yang memandang. Begitu ekstrim kita melekat pada penilaian tampilan luar, sehingga yang sukses dianggap luar biasa, sementara yang gagal dicampakkan! Begitulah sikap diskriminasi antara siapa hebat - siapa payah; siapa pemenang - siapa pecundang; siapa kuat - berkuasa, siapa lemah - terjajah.
Terhadap yang kuat, yang berkuasa, yang menang, yang unggul, yang berstatus tinggi, kita pun hormati, pandang tinggi, puji, sanjung, anggap penting. Sebaliknya terhadap yang kalah, yang berstatus rendah, yang gagal, yang lemah, selain tak kita pandang, juga kita diskreditkan, anggap hina, permalukan, tolak kesampingkan, perlakukan tak manusiawi. Inilah akibat dari kita tersesat dan menindas Hati Nurani yang Paling Universal!
Orang yang kuat kita hormati, sementara yang lemah kita tindas. Orang yang berstatus tinggi kita muliakan, sedangkan yang berstatus rendah kita remehkan. Orang yang menang kita puji, sedangkan yang kalah kita hina. Orang yang sukses kita sanjung, sedangkan orang yang gagal kita permalukan. Orang yang berkuasa kita anggap penting, sedangkan orang jelata kita perlakukan tak manusiawi. Semua ini karena kita membelakangi Hati Nurani yang Paling Universal!
Dunia kini sedemikian multikrisis dan kalut, masyarakat kurang aman stabil, keluarga pra rukun, relasi antar manusia kurang sempurna, lingkungan sesama banyak perselisihan dan pertikaian, manusia saling perhitungan dan menyalahkan, bahkan saling merugikan dan mencelakai, semua ini kita telusuri penyebabnya berpangkal pada ketidakinsafan akan Hati Nurani yang Paling Universal! Kebanyakan orang hanya melihat sebatas permukaan wujud rupa atau penampilan luar belaka, tidak melihat sampai Hati Nurani Paling Universal yang dimiliki setiap orang!
Hati Nurani yang Paling Universal ada pada diri setiap orang. Saat berinteraksi, kalaulah yang kita lihat dari diri setiap orang adalah Hati Nuraninya, maka dengan sendirinya kita akan bersikap ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’. Bersikap respek terhadap atasan dan senior, rekan segenerasi, maupun junior. Juga menghormati langit, bumi, semua makhluk dan benda, termasuk yang hewan yang hidup di angkasa, di daratan, dan di perairan. Bahkan menghargai eksistensi pohon, bunga, rumput, surya, rembulan, bintang, gunung, sungai, dataran luas, dan lainnya. Dengan menghormati dan menghargai segala entitas di alam semesta, barulah kita sungguh-sungguh menghormati LAOMU dan Buddha Maitreya.
Kita respek kepada langit yang terus berdedikasi bagi kehidupan kita, dari cahaya matahari, sinar rembulan, angin, awan, hujan, embun, salju, hingga udara yang kita hirup. Kita juga respek kepada bumi yang mengayomi dan menopang eksistensi semua makhluk, termasuk gunung, sungai, samudera; juga menumbuhkan semua palawija, sayur-mayur, buah-buahan, pepohonan; membentangkan padang rumput, mempersembahkan segala macam bunga, dan merimbunkan rimba belantara; juga mempersembahkan segala jenis hasil tambang, butiran pasir dan kerikil. Demikianlah kemuliaan spirit langit bumi, yang berdedikasi dan terus berdedikasi, senantiasa menguntungkan umat manusia tanpa pamrih! Karena itu hargai dan teladanilah langit bumi.
Kita juga harus menjunjung kehidupan semua makhluk, baik yang hidup di udara, di daratan, maupun di perairan, karena dalam diri mereka juga eksis emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani. Kalau kita menjunjung kehidupan hewan yang beterbangan di angkasa, kita tidak akan tega untuk menembak dan menyantapnya. Kalaulah kita menjunjung kehidupan hewan yang hidup di daratan, maka tak mungkin kita menyembelih kambing, babi, ayam, bebek, anjing, dan lainnya, untuk dimakan, karena pada dasarnya mereka juga memiliki emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani. Segala jenis ikan, udang, dan hewan lain yang hidup di perairan juga tidak akan kita konsumsi, karena mereka juga memiliki emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani.
Kita juga menghormati kehidupan setiap insan manusia di dunia yang berjumlah lebih dari 6 milyar, karena dalam diri setiap insan terdapat emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani. Menghormati sesama Makhluk LAOMU sama dengan menghormati LAOMU. Merendahkan sesama Makhluk LAOMU sama dengan merendahkan LAOMU. Insafilah bahwasanya dalam diri setiap makhluk sungguh eksis emanasi Roh LAOMU (Jati Diri Nurani). Dengan keinsafan Nurani yang Paling Universal, kita menyadari bahwa Hati Nurani semua makhluk dan Hati Nurani dalam diri kita adalah sama, satu entitas! Maka, dengan sendirinya kita bersikap ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’. Kita selalu sadar bahwa menghormati orang lain berarti menghormati emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani - dalam dirinya.
Sesungguhnya setiap makhluk terlahir setara dengan makhluk lainnya. Jika di sana-sini masih ada orang yang tak kita sukai, yang hendak kita singkirkan; atau selalu iri; atau selalu melihat kekurangan dan kelemahan setiap orang; maka sebenarnya kita sedang menyakiti hati LAOMU! Ketahuilah, bahwa seorang Buddha memandang setiap makhluk sebagai Buddha. Sesungguhnya dalam diri setiap makhluk memang eksis watak Buddhata.
Di mata kita seorang pembina sejati, dalam diri setiap makhluk eksis emanasi Roh LAOMU - Jati Diri Nurani yang mahaagung dan mahamulia, yang juga merupakan Bunda dari semua Buddha, Guru dari semua sutra dan kitab suci, Raja dari semua Dharma! Dengan keinsafan tertinggi akan Hati Nurani yang Paling Sempurna, maka sadarlah bahwa semua orang adalah saudara kandung Ilahi, semua makhluk pada dasarnya adalah satu keluarga, dunia adalah satu keluarga, trilokya adalah satu keluarga. Sungguh tiada diskriminasi dalam bentuk apapun, penuh semangat kekeluargaan dan kebersamaan.
🞊Sejak adanya umat manusia hingga sekarang, pertikaian tak pernah berhenti. Pertikaian dan perang antarsuku, antarkelompok agama, antarras, antarbangsa dan antarkomunitas terus terjadi. Semua ini terjadi karena antarsesama manusia tiada keinsafan untuk saling menghormati dan menghargai.
Pola pandang yang berkembang di dalam masyarakat dewasa ini semakin menyimpang dari nilai Kebenaran. Manusia semakin mengagungkan pengetahuan luar, terpesona oleh fenomena di luar diri, sehingga berusaha mengejar segala sesuatu di luar diri. Sebagai dampaknya, barang siapa yang bisa tampil sebagai orang yang berpengaruh, sebagai pemenang, orang yang berkedudukan, maka dialah yang akan dihormati, disanjung, dan dipuja. Sebaliknya, pihak yang kalah, rendah, lemah, dan jelata, akan diremehkan, bahkan dicampakkan, dihina, dan dilecehkan. Kondisi ini telah memicu terjadinya kekacauan dan kekalutan dalam masyarakat. Pandangan keliru seperti ini telah menciptakan suasana keluarga yang tidak harmonis, kehidupan masyarakat menjadi tidak tenang, dan mengancam relasi kemanusiaan. Sesama rekan bisa saling curiga, berselisih, bertikai dan bahkan menghancurkan.
Karena kita telah memagar pandangan mata hanya sebatas wujud rupa, maka kita sama sekali tidak menyadari keberadaan Hati Nurani yang Mahasempurna; apalagi untuk menyadari kenyataan bahwa yang lemah dan yang kuat sesungguhnya memiliki emanasi Roh LAOMU yang sama. Demikian juga mereka yang gagal dan yang menang, yang miskin dan yang kaya, yang buruk rupa dan yang cantik, yang pintar dan yang bodoh, semua sama-sama memiliki emanasi Roh LAOMU yang sama. Ikatan pada wujud rupa menimbulkan sikap diskriminatif, sehingga keberadaan emanasi Roh LAOMU pada setiap makhluk kita abaikan.
Mari sebarkan pola pandang yang benar di dalam komunitas Ketuhanan. Selama ini, mungkin ada di antara kita yang berpendapat bahwa kita akan mendapatkan penghormatan dari orang lain jika kita telah menjadi seorang Sesepuh. Ini merupakan sebuah pandangan yang salah.
Bila kita berpandangan bahwa dengan menjadi Sesepuh, Pandita, Pandita Madya, Dharmaduta; atau dengan memiliki kemampuan yang hebat, banyak beramal, banyak menyelamatkan umat manusia, pandai berceramah; maka barulah kita akan mendapatkan penghormatan, penghargaan, dan perhatian dari orang lain; atau berpandangan, ‘Saya telah berjuang dan mengorbankan apa saja demi wadah Ketuhanan, sudah semestinyalah saya mendapatkan respek dari semua orang’; berarti kita meminjam sebab jodoh luar diri untuk mendapatkan penghormatan sebatas wujud rupa belaka. Ini merupakan pandangan yang tidak benar, yang harus dilenyapkan. Oleh karena itu, sangatlah penting memiliki pandangan yang benar dan tepat di dalam meniti perjalanan membina dan mengamalkan Ketuhanan.
Oleh sebab itu, kita harus menginsafi ‘Makna Luhur Hati Nurani’. Dengan menginsafi Kebenaran Sejati dari Hati Nurani, maka walaupun anda telah menjadi seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Madya, atau seorang Dharmaduta yang handal, dalam hati sangat jelas bahwa semua itu semata hanyalah kewajiban Nuraniah. Seandainya kita terbelenggu oleh status tersebut, lantas malah menyalahgunakannya untuk menekan umat, berarti kita sungguh tak bernurani! Bila kita memanfaatkan status sebagai seorang Sesepuh, Pandita, Pandita Madya, agar semua orang tunduk dan respek kepada kita; bila kita menonjolkan kemampuan dalam bertugas, menyelamatkan umat manusia, berdana, berceramah, sehingga orang lain pun harus hormat dan menghargai; bila semua bentuk pengorbanan dan dedikasi yang kita lakukan hanya demi mendapatkan respek dan penghargaan dari orang lain; maka pembinaan seperti ini tak akan pernah berhasil. Dari semua pengorbanan yang dilakukan, sebesar apapun, tak satupun yang terbilang sebagai pengorbanan Nuraniah.
Masihkah tetap membina apabila kita tidak lagi mendapatkan penghormatan dan perhatian dari orang lain? Lalu, apa motivasi kita dalam membina diri? Di manakah letak keluhurannya? Gejala lain yang sering timbul dalam wadah Ketuhanan yaitu bentuk respek dan perhatian sebatas atasan, bawahan, dan rekan sepembina, di mana setiap orang mengharapkan pengakuan dan penghargaan dari orang lain. Sebagai atasan menuntut penghormatan dari bawahan, di antara rekan sepembina juga sangat mementingkan hal seperti ini. Demikian pula halnya dengan bawahan, yang senantiasa mencari perhatian atasan. Atmosfir wadah Ketuhanan menjadi tak sehat. Dari atasan sampai bawahan tidak lagi menyadari tujuan utama pembinaan diri. Akhirnya, sebagian orang membina hingga akhirnya jiwa terasa hampa dan kosong. Sungguh menyedihkan seseorang yang mendambakan perhatian, namun tak kunjung mendapatkannya dari atasan, rekan sepembina, ataupun dari bawahan. Akhirnya segala perjuangan terasa sia-sia. Pandangan seperti ini sangat tidak benar.
Maka, harus sangat jelas di dalam diri kita, mengapa saya harus membina dan mengamalkan Ketuhanan? Bukan demi siapa-siapa, juga bukan karena orang tertentu. Walaupun semua orang menyanjungku, memujiku, mengakui keberadaanku, namun tanpa pengakuan Nurani, semua menjadi tak berarti. Yang paling utama dalam membina diri adalah mendapatkan pengakuan dari LAOMU, Buddha Maitreya, Shecun dan Shemu; hidup sejalan dengan suara Nurani, leluasa dan bebas dari deraan Nurani. Insafilah Kebenaran ini!
Walaupun demikian, jangan sampai kita jadi bersikap asal-asalan atau tak mau peduli dengan segalanya. Saat Sesepuh atau Pandita memarahi, kita tak peduli; para senior membimbing dan menasehati, juga tak kita hiraukan; sesama rekan sepembina memberi masukan, junior dan para umat memberi saran untuk kita, juga tak kita gubris sama sekali. Sikap seperti ini bukanlah sikap yang kita maksud. Orang yang tak mementingkan respek-tidaknya orang lain terhadap dirinya adalah orang yang memiliki harga diri Nuraniah. Sebaliknya, dengan sifat dan perilaku yang teledor, sesuka hati, tak mematuhi aturan, atau egois, pasti kita akan terjerumus ke dalam lingkaran mara dan mengalami kegagalan.
Dalam perjalanan membina dan mengamalkan Ketuhanan, kita harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kita ke hadapan Nurani sendiri, kehadapan LAOMU, Buddha Maitreya, dan Shecun-Shemu. Demikian juga, semua yang kita lakukan, yang kita kerjakan, haruslah sesuai dengan kehendak LAOMU, Buddha Maitreya, dan Shecun-Shemu. Kalaulah anda sungguh-sungguh menghormati LAOMU, Buddha Maitreya, Shecun dan Shemu, maka jangan melakukan hal-hal yang membuat LAOMU, Buddha Maitreya, Shecun dan Shemu bersedih hati. Sebaliknya lakukanlah hal-hal yang sesuai dengan Hati Nurani. Terlebih tidak boleh bersikap masa bodoh, bersikap tak peduli terhadap semuanya, karena ini akan menjerumuskan diri, membuat diri mati rasa, akhirnya menghancurkan diri sendiri.
Dengan membina dan mengamalkan Ketuhanan, kita berjuang menjadi orang yang memiliki harga diri Nurani. Apa itu harga diri? Dari pengertian umum, harga diri dinilai dari sudut pengaruh seseorang di dalam masyarakat dan dari penampilannya. Dengan kata lain, dari ‘aku’ wujud rupa, dari status seseorang. Sedangkan harga diri ditinjau dari keinsafan Hati Nurani adalah sejauh mana diri kita menghargai Hati Nurani sendiri, sejauh mana diri kita menghormati emanasi Roh LAOMU yang ada di dalam diri ini. Jika diri sendiri saja tak bisa menghargai Hati Nurani sendiri, siapa lagi yang akan menghargai diri kita? Jika diri sendiri saja tidak menghormati emanasi Roh LAOMU ini, mana mungkin orang lain mau menghormati kita? Sejalan dengan itu, jika diri sendiri saja tidak bisa menghormati Hati Nurani - emanasi Roh LAOMU di dalam diri, bagaimana mungkin diri sendiri bisa memiliki kesadaran untuk menghormati LAOMU, Buddha Maitreya, Shecun dan Shemu?
Terlepas dari kondisi, apakah orang lain menghormati kita atau tidak, kita harus menjadi orang yang memiliki harga diri Nurani. Kalau diri sendiri tidak menghargai Hati Nurani sendiri, namun orang lain tetap menghormati kita, berarti kita telah menjadi setan mara. Mengapa disebut setan mara? Karena kita telah membungkus perbuatan yang tak bernurani dengan sangat rapi, sehingga mampu mengelabui orang lain dengan penampilan diri secara munafik. Akibatnya, bagai orang buta menuntun orang buta, mencelakakan diri sendiri dan umat manusia.
Seorang pembina yang memiliki harga diri Nurani tidak akan risau ataupun menjadi resah oleh segala bentuk penghormatan dan penghargaan. Perilakunya akan senantiasa berteguh dan sejalan dengan hati LAOMU dan Guru.
Jika kita telah memiliki harga diri Nurani, namun orang lain masih meremehkan, mengucilkan, menghina, dan memfitnah diri kita, ini merupakan proses pelunasan dosa karma. Ini disebut ‘Ujian Ilahi’. Semua ini merupakan usaha LAOMU dalam menggembleng pribadi Buddha-Bodhisatva. Dari sinilah proses pembentukan pribadi luhur Buddha-Bodhisatva. Insafilah!
Ketika anda telah menjadi pembina yang memiliki harga diri Nurani, lantas atasan sangat memperhatikan anda, rekan sepembina juga begitu respek, bawahan sangat menghormati. Ini merupakan fenomena yang wajar, tidak berlebihan. Tetapi sebaliknya, jika tanpa harga diri Nurani, diri kita terus mengharapkan perhatian dari atasan, rekan sepembina, dan penghormatan dari bawahan, ini merupakan sifat serakah dan khayal, merupakan sikap yang membelakangi Hati Nurani.
Seandainya diri kita tidak memiliki harga diri Nurani, tetapi memperoleh perhatian dari atasan, rekan sepembina, dan para bawahan, kondisi apakah ini? Sadarilah, inilah ‘Ujian Mara’! Sebuah kondisi yang sangat berbeda dengan ujian Ilahi. Jika ujian Ilahi diturunkan untuk menggembleng Buddha-Bodhisatva, maka ujian mara diturunkan untuk membentuk anak-cucu setan-mara. Dan ini tidak sebatas sebuah ujian mara saja, tetapi juga berarti kita telah berada di dalam cengkeraman dosa karma. Diri sendiri saja tidak mampu menghormati Hati Nurani sendiri, sementara orang lain begitu menghormati, sungkan, dan patuh padamu. Sungguh ini terlalu berbahaya!
Insafilah pentingnya memiliki harga diri Nurani! Seseorang yang tahu bagaimana menghormati Hati Nuraninya, tak pernah memiliki keberanian untuk melakukan hal-hal yang membelakangi Kebenaran Nurani, ataupun timbul niat-niat yang tidak sesuai dengan Nurani. Seseorang yang menghormati Hati Nurani sendiri, baik dalam tingkah laku ataupun ucapan, tidak akan pernah meninggalkan Kebenaran Nurani, meninggalkan eksistensi Roh LAOMU di dalam diri.
Kebanyakan manusia telah tersesat dan tak lagi memiliki harga diri Nurani. Pikiran mereka dipenuhi dengan harapan agar bisa mendapatkan penghormatan dari orang lain. Dan demi mendapatkan semua itu, mereka mengandalkan kekuasaan, kedudukan, harta, ilmu pengetahuan, kemampuan, kepintaran, dan sebab-jodoh luar lainnya. Sementara di dalam Wadah Ketuhanan, ada sebagian orang yang tak memiliki harga diri Nurani, dalam pikirannya pun selalu tebersit hasrat untuk menjadi Sesepuh, Pandita, atau seorang pemimpin. Sebab hanya dengan demikian, baru bisa mendapatkan respek dari orang lain, menikmati kekuasaan, sekali bertitah semua orang mematuhi. Sebuah keadaan yang sangat luar biasa! Namun mereka tidak menyadari, semua ini hanya mengantar diri menuju kesesatan dan keterjatuhan.
Sesungguhnya dengan ‘Studi Keinsafan Hati Nurani’ berarti kita telah menelan ‘pil kesadaran’, menjernihkan pikiran kita, membangunkan kita dari tidur panjang. Mari kita bersama-sama menjadi orang yang memiliki harga diri Nurani! Tak peduli apakah orang lain menghormati saya atau tidak, namun diri sendiri harus bisa menghormati Nurani sendiri, memuliakan emanasi Roh LAOMU di dalam diri. Inilah sebuah pribadi yang agung dan luhur.
Seseorang yang bisa menghormati dan memuliakan emanasi Roh LAOMU yang mahaagung, mahamulia, mahatinggi yang ada pada dirinya, maka para Buddha-Bodhisatva dan para Suci pun akan menghormatinya. Bahkan Dewa dan setan, hingga segenap penghuni trilokya tanpa terkecuali, akan menghormati. Oleh sebab itu dikatakan ‘Mahatinggi hukum Ketuhanan hingga naga dan harimau pun menjadi takluk, mahamulia kebajikan suci hingga malaikat dan iblis pun menjadi salut’.
Dengan memiliki harga diri Nurani, hutang dosa karma pun akan menghormatimu, insafilah! Jangan lagi resah dan terbelenggu oleh segala bentuk penghormatan yang berwujud rupa. Manakala kita masih peduli pada bentuk penghormatan yang berwujud rupa dan tidak peduli akan kenyataan Nurani diri, maka itu berarti kita telah menyimpang dari fakta Kebenaran Nurani. Pahamilah, respek dari dasar Nurani jauh lebih mulia daripada respek dalam wujud rupa belaka. Apabila kita mampu mendapatkan respek Ilahiah, maka perjalanan pembinaan kita akan selalu diberkahi dan penuh kelancaran, karena kita sedang melangkah di jalur Buddha-Bodhisatva.
Seseorang yang bisa menghormati Nurani - Roh LAOMU di dalam diri, pasti bisa menghormati Roh LAOMU dan Hati Nurani yang ada pada diri semua makhluk, termasuk menghormati dan menghargai langit, bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, sungai, sekuntum bunga, sebatang rumput, bahkan hingga sebutir kerikil dan pasir.
Orang yang tak memiliki harga diri Nurani berarti tidak memiliki keinsafan Nurani. Mereka memiliki pribadi yang tidak setia, tidak berbakti, tidak berwelas asih, dan tidak berperikebenaran. Dalam keadaan demikian, bagaimana mungkin mereka bisa hidup sejalan dengan Kebenaran langit dan bumi? Apalagi di saat berhadapan dengan LAOMU, Buddha Maitreya, dan Shecun-Shemu? Renungkanlah, dan jadilah seorang pembina yang memiliki keinsafan Nurani!
Setelah menginsafi keberadaan Nurani - realitas harga diri yang sebenarnya - barulah kita bisa memuliakan Hati Nurani dan Roh LAOMU di dalam diri. Selangkah lebih maju, anda baru bisa menghormati dan memuliakan Roh LAOMU dalam diri segenap insan trilokya. Inilah proses realisasi perilaku ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’.
Seseorang yang memiliki harga diri Nurani selalu menjadikan Hati Nurani dan Roh LAOMU sebagai pengendali dalam niat pikiran, ucapan, dan perbuatannya. Berpadunya Bunda Ilahi dan anak bukanlah fenomena yang terjadi setelah kita meninggal dunia nanti. Namun dalam keseharian, saat kita mampu menjadikan Hati Nurani - Roh LAOMU sebagai tuan atas jasmani ini, seketika itu juga Bunda Ilahi dan anak bersatu padu. Inilah momen tatap muka diri kita dengan Buddha Maitreya dan Shecun-Shemu. Di momen ini jugalah sebuah jiwa kembali melebur ke Pokok Asal.
Sebab-jodoh yang terjalin antara kita dengan siapapun dalam kehidupan ini, sekali sirna maka selamanya berlalu. Oleh karena itu, kita harus sungguh-sungguh menghargai segala sesuatu yang berada di depan mata kita. Baik itu sebab-jodoh yang bersifat baik atau buruk, disukai atau tidak, menguntungkan atau merugikan, semua itu sesungguhnya sedang melatih, menempa, dan menyempurnakan diri kita! Jadi, marilah kita menyayangi semua bentuk sebab-jodoh bersama siapapun juga. Melalui berbagai sebab-jodoh yang berbeda-beda pelatihan dan penempaannya, sedikit demi sedikit kita perbaiki semua kebiasaan buruk, temperamen dan sikap negatif dari diri kita. Karakter setiap orang berbeda-beda. Ada yang angkuh, ada yang eksentrik, ada yang suka menyendiri, ada yang keras kepala, ada yang sok pintar, ada yang suka berbuat semaunya, ada yang ekstrim dan kaku. Bagaimana mengatasinya? Mulailah dari kesadaran Nurani, belajar untuk bersikap ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’. Dari sana, barulah kepribadian yang kurang baik ini bisa diperbaiki secara bertahap.
Dalam relasi antarmanusia, hutang budi dan karma, berbagai isu dan gossip, perselisihan dan pertentangan terkadang sulit dihindari. Bagaimana cara melerai semua simpul negatif ini? Yaitu dengan semangat ‘Menghormati segalanya’! Jadi, kini hal yang amat genting untuk diamalkan adalah menjalin sebab-jodoh bajik secara universal! Jangan lagi menjalin hubungan sebab-jodoh yang buruk, karena sekali terjalin, maka kelak buah karma buruk dan reaksi negatif akan datang tanpa henti. Maka, kita harus senantiasa berintrospeksi secara intensif. Bermawas diri akan sebab-jodoh yang sedang kita jalani: apakah tengah sebab-jodoh baik, atau sebaliknya? Kalau ternyata kita telah menjalin sebab-jodoh buruk secara luas, segeralah bertobat dan memperbaiki diri, memohon pengampunan LAOMU, Buddha Maitreya, dan Shecun-Shemu.
Sebab-jodoh macam apapun, semuanya harus dihadapi dan dihargai. Lantas senantiasa menjalin relasi yang baik dengan siapapun juga, baik yang berbudi maupun yang telah melukai kita; baik yang kita sukai atau tidak. Terus berlatih, menempa diri, menyempurnakan sikap, hingga akhirnya pulihlah Jati Diri kita. Pada saatnya semua orang yang kita hargai dan hormati akan siap mendukung dan membantu kita!
Kini Buddha Maitreya dapat mengemban misi agung akhir zaman sebagai Penyelamat Terakhir dan Terbesar, dikarenakan Beliau selama berkalpa-kalpa tahun secara berkesinambungan menjalin jodoh bajik secara universal! Dengan karakter agung Beliau: Dipukul tidak melawan, dimarah tidak membalas; bersikap harmonis dan rendah hati; berjiwa besar menerima rugi dan nista. Beliau secara sempurna memahami dan menghormati setiap orang, tidak terpengaruh baik-jahatnya sikap orang itu. Yang Beliau lihat pada diri setiap orang adalah eksistensi emanasi Roh LAOMU. "Relasi yang baik maupun buruk, semuanya kuanggap sebagai sebab-jodoh yang melatih, menempa, dan menyempurnakan diriku!" Dalam setiap momen yang dijalani, Beliau senantiasa menjalin jodoh bajik dengan semua makhluk, sehingga kini menjadi Buddha Penyelamat yang paling dibutuhkan, di saat yang paling tepat. Orang yang terpanggil untuk menjadi siswa Beliau pun tak terhitung jumlahnya.
Di sepanjang hidup kita, marilah belajar mengamalkan semangat 'Menghormati setiap orang, jalin jodoh bajik dengan semua makhluk'. Dengan semangat ini barulah kelak kita bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di Dunia Damai Sentosa yang penuh kebersamaan, di mana setiap orang saling menghargai, saling menghormati, penuh sukacita, bahagia tiada tara. Jikalau kita tidak mampu menghormati orang lain, sekalipun berada di tengah Bumi Suci Maitreya, kita tetap tidak dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang penuh sikap respek. Kita seorang diri tidak bisa harmonis dengan semua orang, pada akhirnya bukan Buddha Maitreya yang menolak diri kita, tetapi diri sendirilah yang menyingkirkan diri sendiri!
Budaya yang terus bertahan di Bumi Suci Maitreya adalah budaya ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’, budaya saling menghormati. Kalau sekarang kita tidak belajar menerapkan semangat ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’; masih bersikap sesuka hati, seenaknya menjelekkan orang, membabi-buta membenci orang lain; walau sementara kita menikmati kebebasan secara individual, tetapi begitu sudah menanamkan benih karma yang demikian, maka kelak kita tidak mungkin memasuki Bumi Damai Sentosa yang penuh kebersamaan – dengan budaya ‘Menghormati segalanya, segalanya dihormati’.
Jadi, kini baik-baiklah mempersiapkan diri! Dalam komunitas Ketuhanan, di rumah tangga, di tengah masyarakat, di pabrik, di perusahaan, di kantor, di lingkungan apapun, kita perlu belajar menghormati orang lain. Jika dalam rutinitas sehari-hari kita terbiasa bersikap 'Menghormati segalanya', kelak kita pasti akan menapaki Bumi Suci Maitreya! Sebaliknya, jika kita selalu berkukuh pada pandangan pribadi, pada konsep keakuan, bersikap angkuh, berbuat semaunya, tidak menghormati segalanya, maka selamanya kita tidak akan bisa memasuki Bumi Suci Maitreya!
Ada pepatah berkata, “Seperti apa hasil panen, bergantung pada bagaimana kita menanam dan merawatnya.” Bila kita mampu menghormati segalanya, maka orang lain tentu akan menghormati kita. Inilah hukum sebab-musabab yang pasti. Menghormati orang lain sesungguhnya adalah menghormati diri sendiri. Dengan menghormati segalanya, dengan sendirinya orang-orang pun akan menghormati diri kita. Benih apa yang ditanam, buah itulah yang kelak dipetik. Demikianlah, Hukum LAOMU Mahaadil.
Semangat menghormati segalanya dimulai dari memuliakan LAOMU, Buddha Maitreya, Dwi Maha Guru Shecun-Shemu; selanjutnya menghormati para Sesepuh, Pandita, umat senior, sesama pembina, umat junior, dan umat baru. Terlebih kita harus menghormati ayah-bunda, suami atau istri sendiri, saudara kandung, putra-putri, sanak famili dan handai taulan, hingga tetangga di sekitar. Semua makhluk juga wajib kita hormati. Hargailah eksistensi langit, bumi, laksa benda seisi semesta, yang sesungguhnya merupakan wujud nyata eksistensi Kasih LAOMU. Bila kita mampu menghormati segalanya, dapat dipastikan kita memancarkan cinta-kasih yang universal. Demikianlah Hati Nurani yang Paling Universal menjadi pengendali diri.