Pada zaman dahulu, dengan kearifannya nenek moyang manusia telah memiliki Keyakinan, jauh sebelum adanya agama-agama. Nenek moyang kita sudah mempunyai Keyakinan yang mendalam terhadap alam semesta, astronomi dan geografi, serta seni. Hal inilah yang kemudian menjadi permulaan dari keyakinan akal budi.
Pengetahuan ibarat sebuah kunci yang dapat membuka kebijaksanaan kita sehingga mampu berpikir rasional. Dengan kebijaksanaan dan pikiran rasional kita menalar, menganalisis, serta mengkaji secara mendalam, hingga pada kesimpulan “ternyata agama dan keyakinan adalah dua hal yang berbeda!” Sebelum adanya agama, nenek moyang sudah memiliki keyakinan; keyakinan yang muncul dari rasa syukur dan hormat terhadap alam semesta raya.
Dengan akal budi yang rasional dan penuh kebijaksanaan, kita menjadi sangat jelas bahwa “keyakinan sesungguhnya merupakan sifat kodrat kita”. Seperti halnya sifat bunga matahari yang selalu menghadap ke arah matahari, naluri ikan salmon untuk pulang ke kampung halaman, serta insting anak kecil yang senantiasa mencari mama mereka. Keyakinan pada dasarnya merupakan naluri umat manusia untuk kembali ke sumber. Dan membangkitkan kekuatan untuk melangkah mencari sumber kehidupan bersama.
Keyakinan juga bersumber dari sifat kodrat yang penuh keindahan mulia-sunya-bahagia. Dan terus berseru dari lubuk hati yang terdalam. Oleh karena itu:
Faktanya, keyakinan adalah panggilan dari lubuk hati kita yang terdalam untuk kembali ke sumber semula! Maka dari itu, sesungguhnya keyakinan dengan kehidupan saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan! Sebab:
Di bawah tuntunan keyakinan akal budi, marilah kita semua melangkah menuju era baru. Era keharmonisan jasmani, hati, dan rohani, dimana peradaban materi, peradaban mental, dan peradaban spiritual berpadu satu. Untuk mewujudkan keyakinan bersama warga dunia, merampungkan dunia satu keluarga. Inilah tujuan akhir dari evolusi hidup umat manusia!
Keyakinan telah ada:
Kaitan keyakinan dengan kehidupan:
Keyakinan akal budi membuat:
Dunia begitu indah karena alam semesta ini dipenuhi dengan beraneka ragam komponen yang saling terintegrasi dengan sangat harmonis. Matahari, bulan, bintang, langit biru, awan putih, kabut, hujan, embun, angin sepoi-sepoi, cahaya pagi, lembayung senja, gunung, sungai, padang rumput, aneka bunga yang berwarna-warni, serta burung-burung yang terbang di angkasa, hewan-hewan yang berlarian atau berjalan di daratan, dan ikan-ikan yang berenang di air. Semua ini adalah panorama alam yang paling indah dan menggugah hati.
Keharmonisan, keseimbangan, kehangatan, keselarasan, dan ketepatan (sangat pas, tak lebih dan tak kurang, sesuai) yang dihadirkan alam melalui wujudnya yang beraneka ragam membuat kita benar-benar merasakan kenyamanan dan ketenangan baik secara jiwa maupun raga.
Bagaimana dengan manusia? Manusia juga memiliki berbagai keragaman: kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis; bervariasinya budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, aksara, dan bahasa; serta perbedaan kaya-miskin, terhormat-terhina, pintar-bodoh, cantik-jelek. Tetapi hidup manusia tidak menjadi lebih indah dan semarak karena banyaknya keragaman itu.
Sebaliknya, perbedaan-perbedaan ini justru menimbulkan pertentangan, kebencian, pengucilan, ketidakpedulian, keterasingan, gesekan, perselisihan, bahkan peperangan antar manusia. Semua fenomena saling menyakiti satu sama lain ini pun mengakibatkan perdamaian dunia semakin sulit dicapai.
Bagaimana caranya agar manusia dapat mengatasi permasalahan ini?
Kita harus menggunakan akal budi, dengan pikiran rasional dan kebijaksanaan untuk mematahkan dan menghilangkan segala macam kekeliruan manusia, seperti:
Marilah kita semua kembali pada keyakinan yang paling asali, alami dan murni, yaitu: keyakinan bersama warga dunia.
Keyakinan bersama warga dunia adalah keyakinan bersama seluruh umat manusia. Keyakinan merupakan sifat kodrat seluruh umat manusia, untuk kembali ke sumber asal. Ini membuat kita memiliki kekuatan untuk menggali jati diri menemukan akar kehidupan, kemudian mendorong kita untuk maju menuju sumber kehidupan bersama.
Meskipun manusia memiliki banyak perbedaan (kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis yang berbeda-beda; juga tidak sama dalam budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, tulisan, dan bahasa; serta berbeda dalam hal kaya-miskin, terhormat-terhina, pintar-bodoh, cantik-jelek), namun kita semua mempunyai satu sumber kehidupan yang sama, yaitu: Bunda Ilahi—Tuhan.
MU (versi vertikal) juga bisa disebut dengan Bunda Ilahi atau Tuhan, adalah Penguasa sejati, Sang Pencipta, juga bisa disebut Tao. Kata "Tuhan" tercatat dalam prasasti tulang masa Dinasti Shang Tiongkok (lebih dari 3.000 tahun yang lalu). Huruf ”MU (versi vertikal)” berubah menjadi ”Mu (versi horisontal)” seperti yang umum digunakan saat ini, baru pada masa setelah Dinasti Qin dan Han.
Bunda yang dimaksud di sini adalah Bunda dari langit dan bumi, Bunda dari semua makhluk, Bunda dari semua Buddha dan orang suci, Bunda dari rohani kita, Bunda dari hati nurani, dan Bunda dari semua kehidupan. Kepercayaan umat manusia kepada Tuhan lebih awal seribu tahun dibandingkan agama-agama besar di dunia. Artinya, sebelum dunia mengenal agama yang resmi, terorganisir, dan sistematis seperti yang ada sekarang ini, kepercayaan kepada Tuhan sudah ada dalam keyakinan masyarakat kuno.
Bunda Ilahi merupakan Sumber Utama segalanya.
Bunda Ilahi yang melahirkan dan merawat langit, bumi, manusia, serta semua makhluk dan benda, disebut sebagai Tuhan Yang Maha Esa.
Bunda Ilahi yang menjadi tuan atas segenap ragaku; mengendalikan penglihatan, pendengaran, ucapan, dan gerakan kita, disebut sebagai Watak Semula (Watak Buddhata).
Jadi, Tuhan sudah ada sebelum para nabi dari berbagai agama lahir. Begitu pula, Watak Semula (watak Buddhata) telah ada di dalam diri setiap orang. Oleh karena itu, Tuhan sesungguhnya Maha Esa, merupakan Tuhan bagi 8 miliaran orang di dunia. Tuhan adalah Bunda Ilahi, Bunda bersama bagi 8 miliaran orang di dunia.
Demi untuk menemukan Sumber Hidup, setiap agama menuntun orang-orang yang berjodoh, sesuai dengan zaman dan lokasi. Sehingga penganutnya dapat memiliki keyakinan, dan umat manusia dituntun untuk beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Watak Semula (Watak Buddhata). Peranan agama adalah untuk menuntun umat manusia menuju keyakinan yang benar; memberi tahu seluruh umat manusia bahwa kita memiliki Tuhan yang sama.
Ketika seluruh umat manusia sudah sadar, setuju, dan menerima bahwa kita memiliki Tuhan, Bunda Ilahi yang sama,
juga sadar, setuju, dan menerima kalau Watak Semula (Watak Buddhata) yang berada di dalam diri setiap orang adalah sama,
saat itu terwujudlah keyakinan bersama warga dunia. Dunia satu keluarga pun akan terwujud dengan sendirinya.
Walaupun semua manusia mempunyai kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis yang tidak sama; juga berbeda-beda dalam budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, tulisan, dan bahasa; serta lain dalam hal kaya-miskin, terhormat-terhina, pintar-bodoh, cantik-jelek… namun kita semua mempunyai Watak Semula (Watak Buddhata) yang sama, kita semua adalah anak-anak dari Tuhan, Sang Bunda Ilahi. Pada dasarnya kita semua adalah satu keluarga, tanpa diskriminasi dan tiada perbedaan.
Hari di mana seluruh umat manusia sudah kembali pada keyakinan yang paling asali, alami, dan murni, yakni keyakinan kepada Bunda Ilahi dan Watak Semula... di saat itulah hari persatuan seluruh umat manusia. Di saat itu jugalah misi dan tugas agama di dunia telah terselesaikan dengan sempurna.
Pencapaian tertinggi, misi termulia, dan kontribusi terbesar dari agama adalah menuntun umat manusia untuk kembali pada keyakinan bersama warga dunia, mewujudkan dunia satu keluarga! Meskipun agama sudah melebur dan yang tersisa hanyalah keyakinan, namun setiap orang di dunia akan selalu bersyukur kepada para nabi suci dari berbagai agama atas jasa kebajikan mereka yang begitu besar dalam menuntun umat manusia berjalan menuju keyakinan yang benar.
Keyakinan bersama warga dunia terwujud ketika keyakinan telah menjadi bagian dari kehidupan setiap orang; ketika keyakinan menjadi sesuatu yang alami, dan sama pentingnya dengan jantung yang berdetak dan bernafas. Keyakinan adalah hal yang wajar dan alami. Seperti, saat lapar kita perlu makan, saat haus kita perlu minum, saat ngantuk kita perlu tidur, sedangkan keyakinan adalah kehidupan mental spiritual yang kita perlukan setiap hari.
Yang dimaksud memiliki kehidupan mental dan spiritual adalah: setiap hari kita dapat menjalani kehidupan yang bernurani, kehidupan yang indah, kehidupan yang mulia, sunya, dan bahagia, serta kehidupan yang harmonis… yang juga berarti kehidupan yang dipenuhi dengan kebijaksanaan dan cinta kasih.
Keyakinan akan mendatangkan kekuatan, dan hanya kekuatan bersama yang dihasilkan oleh seluruh umat manusialah, kita baru dapat:
Di waktu yang bersamaan, keyakinan yang benar juga akan meningkatkan peradaban mental dan spiritual seluruh umat manusia. Dunia satu keluarga dan perdamaian dunia dibangun di atas landasan keyakinan bersama warga dunia. Karena kita sama-sama meyakini Bunda Ilahi dan Watak Semula (Watak Buddhata), dengan sendirinya akan mendatangkan kekuatan yang dahsyat karena kekompakan dan kebersamaan, sehingga mendorong terwujudnya budaya, peradaban, nilai hidup, dan moralitas bersama seluruh umat manusia. Intinya, keyakinan bersama warga dunia adalah satu-satunya harapan bagi kelangsungan hidup seluruh umat manusia!
Terakhir, apakah masa depan seluruh umat manusia akan penuh dengan cahaya dan harapan? Apakah generasi penerus kita dapat hidup bahagia, gembira dan sukacita di surga dunia yang penuh warna? Semua ini bergantung pada apakah keyakinan bersama warga dunia dapat benar-benar diwujudkan atau tidak. Hal ini mengandalkan orang-orang yang bijaksana, baik hati, penuh kasih sayang, dan pemberani dari berbagai pelosok dunia. Mari kita berjuang bersama.
Bagaimana caranya agar manusia dapat mengatasi permasalahan ini?
Pakai akal budi:
Kata MU dan Tuhan telah ada sebelum adanya agama di dunia:
Kekuatan keyakinan bersama:
Yang mampu beradaptasi yang bisa bertahan hidup. Bukanlah manusia yang paling kuat yang mampu bertahan hidup, tetapi manusia unggulan.
Arus evolusi umat manusia terus bergulir. Demi untuk bertahan hidup, harus mewujudkan moralitas baru umat manusia “Dunia Satu Keluarga”. Ini tak terelakkan, karena dorongan hasil perkembangan umat manusia sepanjang sejarah.
Hanya dengan terus berbenah, berinovasi, dan bergerak maju, sehingga memiliki konsep, wawasan, dan jiwa “Dunia Satu Keluarga”, barulah kita bisa menjadi manusia unggulan.
Hidup seluruh umat manusia di dunia yang saat ini berjumlah lebih dari delapan miliar orang, berasal dari sumber kehidupan yang sama. Sifat Ilahi—Watak Semula (Watak Buddhata) pada diri setiap orang adalah sama.
Tuhan bersama seluruh umat manusia merupakan sumber semua bahagia, gembira, sukacita; pokok dari kebahagiaan, keharmonisan, dan kebersamaan; serta akar dari maha kasih dan maha indah! Oleh karena itu, pada hari kita dilahirkan ke dunia ini… sesungguhnya Tuhan telah memasukkan semua unsur-unsur Ilahi tersebut ke dalam rohani kita. Karena itulah, kita semua memiliki naluri yang sama, yakni mendambakan kebahagiaan dan kebersamaan, menyukai cinta kasih dan keindahan. Sejatinya kita adalah satu keluarga!
Walaupun kita berbeda dalam kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis… kita adalah satu keluarga. Sekalipun berbeda budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, juga berbeda dalam bahasa dan aksara… kita tetap satu keluarga.
Dari dulu hingga sekarang... semua konflik, peperangan, dan semua bentuk ketidakharmonisan yang terjadi antar negara, agama, dan kelompok, semua itu diakibatkan oleh sempitnya pandangan dan pemahaman yang dimiliki terhadap kebangsaan, kepercayaan, ras, warna kulit, etnis, budaya, dan ideologi; serta konsep moralitas dan kebajikan yang sempit mengenai rasa setia, bakti, kasih, dan integritas. Akibatnya adalah tragedi kemanusiaan yang memakan begitu banyak korban jiwa yang tak terhitung jumlahnya. Sesungguhnya semua konflik, pertikaian, permusuhan, dan peperangan adalah sesuatu yang tidak pantas dan semestinya tidak perlu terjadi!
Berpijak dari ketinggian dan keluasan moralitas baru "Dunia Satu Keluarga", kita akan menyadari: semua tembok penghalang yang menjulang tinggi karena perbedaan kebangsaan, agama, ras, warna kulit, etnis, budaya, ideologi, kebiasaan, aksara, dan bahasa semestinya tak boleh ada!
Hanya dengan engkau, aku, dia, kita, dan orang-orang telah memiliki pandangan, wawasan, dan jiwa “Dunia Satu Keluarga”, barulah umat manusia dapat melangsungkan hidupnya! Barulah kita mempunyai masa depan yang damai, cemerlang, dan bahagia!
Semua konflik, peperangan, dan ketidakharmonisan terjadi akibat:
Terhindar dari kelaparan dan kemiskinan adalah suara hati seluruh umat manusia; terbebas dari musibah dan ketakutan adalah keinginan semua umat manusia; memperoleh kedamaian dan kebahagiaan sejati adalah harapan bersama yang tersembunyi di dalam lubuk hati setiap insan manusia yang terdalam.
Setelah umat manusia memasuki abad ke-21, peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi sudah maju pesat, informasi telah berkembang, dan kenikmatan materi pun telah melampaui semua yang tercatat di dalam sejarah. Seharusnya kini kehidupan umat manusia menjadi lebih berbudaya, lebih beradab, dan lebih berbahagia.
Namun fakta yang terjadi justru sebaliknya, sejauh mata memandang, dunia saat ini diselimuti oleh bayang-bayang perang, pembunuhan, dan kekerasan; krisis ekologi, anomali iklim, dan wabah penyakit yang tidak terkontrol; belum lagi rasa acuh tak acuh, keterasingan, dan ketidakpedulian dalam hubungan antarpribadi, serta persaingan yang tak berperasaan demi bertahan hidup.
Semua fenomena ini membuat banyak orang merasa galau, bimbang, dan cemas terhadap kehidupan dan ketidakpastian akan masa depan. Jumlah orang-orang yang mengalami depresi, gangguan bipolar, autisme, bahkan bunuh diri terus meningkat dan berkembang dari hari ke hari. Inilah awal dari kemerosotan dan krisis hidup umat manusia.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang, serta budaya, peradaban, nilai hidup, dan moralitas yang ada saat ini, sudah tidak lagi mampu menyelesaikan berbagai krisis yang diciptakan oleh manusia itu sendiri. Menghadapi masalah internal dan eksternal ini, kita hanya bisa menghela nafas: "Sebenarnya ada apa dengan dunia ini? Bagaimana supaya kita manusia bisa melangsungkan kehidupannya?"
Bagaimanapun juga tetap harus ada yang membereskan perkara ini, dan kitalah yang harus menyelesaikan sendiri permasalahan yang kita buat.
Bagaimana supaya dunia ini menjadi tempat yang lebih baik?
Bagaimana cara mengembalikan hati manusia pada kodratnya yang maha sejati, maha bajik, dan maha indah?
Bagaimana supaya semua orang bisa melangsungkan hidup dengan bahagia?
Ini adalah tanggung jawab kita semua, ini juga merupakan permasalahan yang harus kita atasi bersama. Oleh karena itu, marilah kita saling bekerja sama untuk merintis sebuah jalan yang dapat ditapaki bersama oleh seluruh umat manusia. Meskipun kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis kita berbeda; budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, tulisan, dan bahasa kita tidak sama; juga lain dalam hal kaya-miskin, terhormat-terhina, pintar-bodoh, dan cantik-jelek, tapi kita dapat bersama-sama memprakarsai empat aspirasi dunia baru, yakni: budaya baru, peradaban baru, nilai hidup baru, dan moralitas baru umat manusia.
Budaya baru adalah budaya mencintai alam semesta, merupakan budaya di mana manusia hidup harmonis dengan alam. Di dunia budaya baru, setiap orang benar-benar telah mempraktekkan cinta alam. Mencintai alam berarti: mencintai langit, mencintai bumi, mencintai semua manusia, mencintai seluruh makhluk dan benda, serta mencintai semua bentuk kehidupan.
Di dunia sekarang ini, ketika berbicara tentang mencintai alam, kebanyakan orang hanya fokus pada aspek ekologi, konservasi satwa langka dan yang hampir punah, serta tidak mempolusi air, udara, tanah, makanan, dll. Namun ini hanyalah bagian kecil dari mencintai alam, karena makna yang sesungguhnya dari budaya mencintai alam itu melingkupi ketinggian, keluasan, dan kedalaman yang tak terhingga.
Alam terdiri dari empat komponen utama, yaitu: langit, bumi, manusia, serta semua makhluk dan benda. Keempat unsur ini saling terkait erat dan tak terpisahkan satu sama lain. Kita semua adalah satu keluarga, termasuk burung-burung yang terbang di angkasa, hewan-hewan yang berjalan atau berlari di darat, dan ikan-ikan yang berenang di air; semuanya juga adalah saudara-saudari kita. Bahkan, sekuntum bunga, setangkai rumput, dan sebatang pohon pun merupakan bagian dari keluarga besar semesta kita. Manusia adalah bagian dari alam, alam dan kita merupakan sebuah komunitas kehidupan… dan alam adalah rumah yang kita andalkan demi kelangsungan hidup.
Kini, hanya dengan menggaungkan dan mengembangkan budaya mencintai alam:
Barulah umat manusia dapat berjalan menuju kedamaian dan kebahagiaan sejati. Inilah makna sesungguhnya dari mencintai alam!
Dunia peradaban baru adalah dunia di mana setiap orang menjunjung tinggi harkat dan martabat semua bentuk kehidupan.
Tuhan menganugerahkan hidup yang mulia tiada banding, agung tak tertandingi, dan setara tiada duanya.
Orang-orang dengan berbagai kebangsaan, ras, warna kulit, dan etnis, serta berbeda dalam agama, kepercayaan, budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, bahasa, dan aksara di seluruh dunia; ditinjau dari martabat hidup seseorang, semuanya sama-sama adalah yang paling agung, sakral, mulia, dan luhur. Bahkan burung-burung yang terbang di angkasa, hewan-hewan yang berlari atau berjalan di darat, dan ikan-ikan yang berenang di air, keluhuran martabat hidupnya juga tetap sama.
Berdiri di puncak harkat dan martabat hidup, hidup sangatlah berharga. Secara alamiah kita tidak akan melakukan perkataan dan perbuatan yang merugikan diri sendiri dan orang lain, selain itu juga akan mengerti untuk menghormati harkat kemuliaan hidup semua bentuk kehidupan.
Marilah kita melindungi hidup diri sendiri, sekaligus melindungi hidup orang lain; mencintai hidup diri sendiri, sekaligus mencintai hidup orang lain; serta memuliakan hidup diri sendiri, sekaligus memuliakan hidup orang lain.
Hidup ibarat lilin, meleburkan diri sendiri demi menerangi sesama, mari jadikan keberadaan kita sebagai terang bagi dunia! Mari kita bergotong royong dan berjuang bersama demi terwujudnya keluarga yang indah bahagia, masyarakat yang tenteram sejahtera, bangsa yang makmur sentosa, dunia yang damai harmonis, serta masa depan seluruh umat manusia yang terang gemilang. Inilah yang hendaknya kita lakukan sebagai manusia yang benar-benar beradab.
Nilai hidup baru umat manusia menegaskan bahwa harkat hidup seorang manusia adalah tak ternilai, yang juga berarti: manusia adalah yang paling berharga, paling mulia, paling utama, paling pokok. Di dunia ini, tidak ada benda atau hal apapun yang lebih berharga daripada harkat hidup kita, manusia.
Membahas tentang kemuliaan harkat hidup seseorang, seluruh umat manusia di dunia yang saat ini berjumlah lebih dari delapan miliar orang mempunyai martabat hidup yang sama-sama tak ternilai.
Sekalipun ia memiliki kekayaan, status sosial, dan kedudukan yang tinggi… bukan berarti harus menjadi sombong dan angkuh, lalu berbuat semena-mena terhadap yang lainnya, justru seharusnya bisa lebih rendah hati dan dapat mendatangkan berkah bagi masyarakat, bangsa, dan dunia dengan segala privilege yang ia miliki. Sebaliknya, ketika kekuasaan, kekayaan, kemampuan, dan kecerdasan kita berada jauh di bawah orang lain… juga tidak perlu rendah diri, menyerah, dan merendahkan diri sendiri. Karena yang paling berharga adalah diri saya ini, manusia adalah pemeran utama yang sesungguhnya (segala atribut yang ditambahkan pada diri kita hanyalah pemeran pembantu untuk membuat hidup kita menjadi lebih berwarna. Jika melekat kepada semua hal-hal sampingan tersebut, justru akan berujung pada ketidakbahagiaan).
Saat ini, karena adanya distorsi (penyimpangan) nilai… orang-orang menjadi semakin tidak mengutamakan harkat kehidupan sebagai seorang manusia. Banyak orang merasa bahwa segala status sosial, kedudukan, kekuasaan, dan kekayaan yang diperoleh dari luar diri lebih berharga daripada diri mereka sendiri. Akhirnya berlomba-lomba untuk mencari ke luar diri secara membabi buta, akibatnya kehidupan spiritual semakin merosot, kehidupan mental semakin hampa, dan semakin jauh dari kebahagiaan.
Harkat dan martabat hidup seorang manusia adalah tak ternilai, hidup kita ini tidak tergantikan oleh sesuatu apapun di bumi ini. Jika setiap orang dapat menegaskan pada dirinya bahwa hidup seorang manusia adalah tak ternilai, maka ia akan memanfaatkan segala yang dimilikinya untuk memberikan manfaat bagi orang lain, akan mendatangkan berkah bagi bangsa, masyarakat, dan orang banyak. Dengan demikian, barulah kita ada harapan untuk hidup dengan bahagia sejati.
Moralitas baru umat manusia adalah moralitas satu keluarga di dunia. Walaupun berbeda kebangsaan, agama, ras, warna kulit, dan etnis… kita adalah satu keluarga. Sekalipun berbeda budaya, ideologi, adat istiadat, kebiasaan, aksara, dan bahasa… kita tetap merupakan satu keluarga. Tidak peduli kaya atau miskin, terhormat atau terhina, pintar atau bodoh, cantik atau jelek… kita masih satu keluarga juga. Kita semua hidup di bumi yang sama. Engkau, aku, dan dia menghirup udara yang sama, memandang ke langit yang sama, serta berbagi matahari, bulan, dan bintang yang sama, jadi kita semua adalah satu keluarga.
Aku mencintai orang tuaku… dan aku juga mencintai semua orang tua di dunia; aku mencintai anak-anakku… aku pun mencintai semua anak di dunia; aku mencintai sanak saudaraku… aku juga mencintai seluruh sanak saudara dan keluarga-keluarga yang ada di dunia. Aku mencintai bangsaku dan rakyat setanah airku… bersamaan dengan itu, aku juga mencintai setiap bangsa beserta semua rakyat-rakyatnya.
Hendaknya kita saling menghibur, saling menyemangati, saling mendukung, saling membantu, saling peduli, saling perhatian, saling mengasihi, dan saling bertoleransi, inilah moralitas baru umat manusia. Ketika engkau, aku, dia, dan orang-orang telah memiliki wawasan, pandangan, dan jiwa dunia satu keluarga… barulah kita dapat mewujudkan moralitas baru umat manusia dan bersama-sama menikmati kebahagiaan, kegembiraan, dan kesukacitaan yang tidak berkesudahan!
Dunia satu keluarga adalah era baru yang mengintegrasikan budaya baru, peradaban baru, nilai hidup baru, dan moralitas baru umat manusia. Seperti kata pepatah: Satu percikan api kecil dapat memulai kobaran api besar. Asalkan kita semua benar-benar yakin dan mulai beraksi, pasti akan membawa perubahan besar bagi seluruh umat manusia. Demi kelangsungan hidup umat manusia, juga demi melindungi generasi penerus kita… marilah kita berjuang bersama untuk merintis empat aspirasi dunia baru; menciptakan taman sukacita semesta yang sejati, bajik, dan indah; serta bersama-sama bergerak menuju abad baru yang penuh bahagia, gembira, dan sukacita!
Makna mencintai alam yang sebenarnya (menuju kedamaian & kebahagiaan sejati):
Peradaban baru ➔ menjunjung tinggi harkat dan martabat semua bentuk kehidupan.
Tuhan menganugerahkan hidup yang mulia tiada banding, agung tak tertandingi, dan setara tiada duanya.
Cara menghormati kemuliaan hidup:
Nilai hidup baru ➔ menegaskan bahwa harkat hidup seorang manusia adalah tak ternilai.
Di dunia ini, tidak ada benda atau hal apapun yang lebih berharga daripada hidup kita, manusia:
Moralitas baru ➔ moralitas satu keluarga di dunia.
Satu keluarga hendaknya saling menghibur, menyemangati, mendukung, membantu, peduli, mengasihi, dan bertoleransi.
Dunia Satu Keluarga terbentuk oleh:
Hidup adalah sebuah keajaiban. Lihatlah bagaimana otak, mata, hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, dan tubuh kita bekerja dengan sangat harmonis; sungguh sangat ajaib! Begitu pula dengan panorama gunung hijau, air murni, langit biru, awan putih, padang rumput, hutan belantara, kicauan burung, semerbak bunga, serta angin sepoi-sepoi; semuanya hidup berdampingan dengan harmonis. Keindahan alam raya ini begitu menenangkan, dan menggugah hati.
Di antara 8 miliar penduduk dunia, kita bisa bertemu seseorang dan bergaul dengannya, sungguh tidak gampang. Kita hidup di atas bumi, berdampingan dengan burung-burung di angkasa, hewan-hewan yang berjalan atau berlari di daratan, ikan-ikan yang berenang di air; bahkan dengan sekuntum bunga, setangkai rumput, dan sebatang pohon pun. Kita diterangi oleh matahari dan bulan yang sama, menghirup udara yang sama. Sebab jodoh ini sungguh sangat luar biasa!
Kita hidup bersama dalam keluarga besar bumi pertiwi. Pada dasarnya kita memang merupakan satu keluarga. Jadi, sudah semestinya kita saling menghargai, mengasihi, dan membantu satu sama lain.
Yang terlihat, kita bersama berbagi dunia yang sejahtera, maju, harmonis, berkelimpahan, sukacita, gembira, dan bahagia bersama. Juga berbagi kejayaan dan pencapaian atas perjuangan kita bersama! Yang tak terlihat, kita semua berbagi kejayaan dan kemuliaan yang berasal dari nurani sadar cemerlang!
Berjaya seorang diri bersifat sementara, hanya dengan berjaya bersama seluruh umat manusia barulah kejayaan yang abadi. Mampu berbagi kemuliaan dan kejayaan atas pencapaian bersama merupakan landasan terwujudnya dunia damai sentosa!
Seorang diri menjadi kaya adalah hal biasa, bisa membuat orang lain bersama-sama kaya barulah luar biasa! Ketika seluruh umat manusia sudah kaya, barulah kita mampu menikmati kekayaan yang sejati.
Kaya di sini adalah kaya secara materi, mental dan spiritual; kaya akan hati nurani, kaya dengan cinta kasih, kaya karena kasih dan altruisme berkembang sampai maksimal! Selangkah lebih maju, membangun sebuah kehidupan materi, mental dan spiritual yang berlimpah; sebuah taman alam sukawati yang sejati-bajik-indah yang penuh Kebenaran. Inilah makna sebenarnya dari kaya Bersama.
Bahagia bersama lebih baik daripada bahagia sendirian. Ketika semua orang dapat berbahagia bersama, barulah kebahagiaan yang sejati! Bisa senantiasa mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain adalah sumber kebahagiaan.
Di dunia damai sentosa, semua orang selain dapat menikmati kebahagiaan melalui panca indera, mental dan spiritualnya lebih-lebih merasakan kebahagiaan. Mari kita menikmati bersama kebahagiaan dalam dunia yang damai harmonis, bangsa yang makmur sentosa, masyarakat yang tenteram sejahtera, keluarga yang indah bahagia, dan orang-orang yang harmonis dengan alam semesta!
Hanya diri sendiri menikmati ketenangan dan kedamaian, bukanlah orang hebat. Bisa membuat orang banyak juga menikmati ketenangan dan kedamaian jiwa-raga, barulah seorang yang arif dan pengasih.
Bila orang-orang memiliki ketenangan dan kedamaian jiwa-raga, dengan sendirinya negara menjadi tenteram dan damai, masyarakat akan tenteram sejahtera, keluarga pun bahagia dan sempurna.
Hendaknya kita memelihara ketenangan dan ketenteraman di ruang publik, kita tampilkan keindahan keharmonisan manusia dengan alam yang damai dan tenang. Mari kita bergotong royong untuk mewujudkan keluarga, masyarakat, bangsa, dan dunia yang tenang dan damai.
Diri sendiri menjadi sadar dan tercerahkan bukanlah hasil akhir. Bisa membuat diri sendiri sadar juga menyadarkan orang lain, sendiri tercerahkan juga mencerahkan orang lain, barulah sikap seorang yang beradab. Jika Nurani tidak bercahaya dan menjadi pengendali diri, belumlah mencapai pencerahan sejati. Nurani sendiri bercahaya dan menjadi pengendali, belumlah cukup luhur. Hanya dengan Nurani membangkitkan Nurani umat manusia, barulah seorang pembina sejati yang tercerahkan.
Bila sendiri sudah sadar, lalu membantu orang-orang untuk menyadari Watak Semula yang mulia-sunya-bahagia. Sungguh luhur dan agung tiada banding.
Bila setiap orang menyadari "Tuhan menganugerahkan hidup yang mulia tiada banding, agung tak tertandingi, dan setara tiada duanya", dengan sendirinya orang-orang akan menampilkan keindahan Watak Semula yang mulia-sunya-bahagia. Demikian, tanpa melangkah pun sudah mewujudkan Dunia Satu Keluarga.
Di dunia ini terdapat lebih dari delapan miliar orang. Selain manusia, juga ada beraneka ragam flora dan fauna yang hidup bersama dunia ini. Kita menghirup udara yang sama, bermandikan cahaya mentari dan rembulan yang sama, serta bertempat tinggal di bumi yang sama.
Semuanya bersama memiliki barulah luar biasa dan akan bertahan selamanya. Di dunia peradaban baru, kita sama-sama memiliki bangsa yang makmur sentosa, masyarakat yang tenteram damai, serta keluarga yang indah bahagia. Dengan begitu, kita akan memiliki taman sukacita semesta yang paling sejati, paling bajik, dan paling indah selamanya!
Kita juga sama-sama memiliki harkat kemuliaan hidup yang paling agung dan luhur; hakikat sejati sifat kodrat yang mulia, sunya, dan bahagia; serta rutinitas, semangat dan perjalanan hidup yang indah.
Kita semua sama-sama memperoleh kebutuhan hidup kita dari alam semesta. Matahari, bulan, angin, awan, hujan, dan embun menghidupi alam raya.
Bersama-sama kita memperoleh dunia baru yaitu Dunia Satu Keluarga, bumi menjadi satu keluarga, laksa bangsa dan laksa agama menjadi satu keluarga. Kita bisa memperoleh kehidupan baru yang kaya berlimpah secara materi, mental, dan spiritual.
Perolehan bersama membuat hubungan interpersonal kita menjadi semakin harmonis. Semangat perolehan bersama ini membuat kita menjadi semakin bersatu hati, bergotong royong, dan saling mencintai, sehingga menjadikan kita benar-benar sebuah keluarga!
Jika ada berkah, dinikmati bersama-sama, menjadi berkah bersama; inilah berkah yang paling mulia. Berkah pribadi sifatnya terbatas dan akan habis; tetapi berkah bersama seluruh umat manusia tidak terbatas dan tak ada habis-habisnya. Bisa mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain, barulah kita memperoleh kebahagiaan yang sejati.
Berkah kebahagiaan terbesar bagi seseorang adalah ketika mampu senantiasa memberikan manfaat/keuntungan bagi orang lain. Bahagia seketika karena sikap altruis saat itu juga. Sikap altruis bisa dilakukan kapanpun dan di manapun, karena itu kebahagiaan juga sebenarnya bisa dirasakan kapanpun dan di manapun.
Tak peduli apapun kebangsaan, ras, warna kulit, etnis, kepercayaan, agama, ideologi, budaya, adat istiadat, kebiasaan, tulisan, dan bahasa kita; baik itu pria-wanita, tua-muda, kaya-miskin, terhormat-terhina, pintar-bodoh, atau cantik-jelek; semua orang bisa memberikan manfaat/kebaikan. Karena itu setiap dari kita adalah orang-orang yang bahagia.
Keberhasilan orang lain adalah keberhasilanku. Jika aku berhasil, aku mau membantu orang lain untuk berhasil juga.
Orang bijak adalah dia yang mampu mempraktekkan semangat hidup bersama, jaya bersama, kaya bersama, bahagia bersama, tenang bersama, sadar bersama, kemilikan bersama, perolehan bersama, dan keberkahan Bersama. Inilah pencapaian abadi dalam hidup.
Ketika engkau, aku, dia, dan orang-orang telah berhasil mencapai sifat kodrat yang mulia, sunya, dan bahagia, dengan sendirinya kita akan bersama-sama mencapai dunia peradaban baru dengan sepuluh semangat kebersamaan.
Dengan terwujudnya sepuluh kebersamaan dunia peradaban baru, umat manusia baru dapat sungguh-sungguh menikmati kehidupan yang indah. Mari kita bekerjasama, bergotong royong, berusaha, dan berjuang bersama-sama untuk mewujudkan dunia damai harmonis yang seluruh penghuninya hidup dengan semangat sepuluh kebersamaan ini!
1. 共存的文明 - Mutual Existence - Peradaban Hidup Bersama
Hidup bersama dalam keluarga besar bumi pertiwi. Pada dasarnya kita merupakan satu keluarga, sudah semestinya saling menghargai, mengasihi, dan membantu.
2. 共榮的文明 - Mutual Prosperity - Peradaban Jaya Bersama
Mampu berbagi kemuliaan dan kejayaan atas pencapaian bersama merupakan landasan terwujudnya dunia damai sentosa.
3. 共富的文明 - Mutual Wealth - Peradaban Kaya Bersama
Ketika seluruh umat manusia sudah kaya (materi, mental, spiritual), barulah kita mampu menikmati kekayaan yang sejati.
4. 共樂的文明 - Mutual Joy - Peradaban Bahagia Bersama
Bisa senantiasa mendatangkan kebahagiaan kepada orang lain adalah sumber kebahagiaan sejati.
5. 共靜的文明 - Mutual Serenity - Peradaban Tenang Bersama
Bisa membuat orang banyak menikmati ketenangan dan kedamaian jiwa-raga adalah tanda seorang yang arif dan pengasih.
6. 共覺的文明 - Mutual Awareness - Peradaban Sadar Bersama
Meningkatkan kesadaran diri sendiri serta menyadarkan orang lain untuk menyadari Watak Semula yang mulia-sunya-bahagia.
7. 共有的文明 - Mutual Sharing - Peradaban Kemilikan Bersama
Sama-sama memiliki bangsa yang makmur, masyarakat yang damai, serta keluarga yang bahagia selamanya.
8. 共得的文明 - Mutual Inheritance - Peradaban Perolehan Bersama
Memperoleh kehidupan baru yang kaya berlimpah secara materi, mental, dan spiritual dalam Dunia Satu Keluarga.
9. 共福的文明 - Mutual Happiness - Peradaban Keberkahan Bersama
Berkah kebahagiaan terbesar adalah ketika mampu senantiasa memberikan manfaat/keuntungan bagi orang lain.
10. 共成的文明 - Mutual Success - Peradaban Sukses Bersama
Keberhasilan orang lain adalah keberhasilanku. Jika aku berhasil, aku mau membantu orang lain untuk berhasil juga.